waspadalah Kenaikan Tarif Listrik!

 

Mulailah menghemat pemakaian listrik Anda sekarang. Karena mulai April, peraturan diskon-denda PLN mulai diberlakukan. Pemakaian daya listrik pada bulan Maret yang akan dihitung. Perhitungan diskon-denda ini cukup rumit, namun secara umum lebih berat denda daripada diskon.

Peraturan ini berlaku untuk seluruh konsumen listrik, baik kelompok rumah tangga, industri kecil, hingga pemakaian skala besar. Kali ini kita akan membahas penggunaan listrik skala rumah tangga saja, yang biasanya memakai daya 450 VA.

Sederhananya seperti ini. Denda akan diberlakukan jika pelanggan melampaui 80 persen patokan penggunaan yang ditetapkan PLN. Sebaliknya, diskon diberikan jika pelanggan berhasil menghemat hingga di bawah patokan. Lalu, berapa patokan PLN?

Perusahaan listrik negara itu mencatat bahwa rata-rata pemakaian pelanggan golongan R1 (450 VA) adalah 75 kilowatt hour (kwh) perbulan. Jadi, 80 persennya sebesar 60 kwh. Ini berarti, pelanggan yang melampaui 60 kwh perbulan akan dikenai denda, sementara pelanggan yang menggunakan daya kurang dari 60 kwh perbulan akan diberikan harga diskon.

Sekarang kita coba hitung penetapan diskon-denda itu. Formula pemberian insentif (diskon) adalah 20 persen dikalikan selisih pemakaian rata-rata nasional dengan pemakaian pelanggan, dikalikan tarif dasar listrik. Rata-rata pemakaian listrik golongan R1 yang ditetapkan PLN adalah 75 kwh. Sedangkan tarif dasar listrik golongan R1 yang paling mahal adalah 530 rupiah.

Misalnya, seorang pelanggan menggunakan daya listrik sebesar 52 kwh. Ini berarti ia berhak mendapat diskon sebesar 20 persen dari selisih rata-rata nasional penggunaan listrik dikalikan tarif dasar listrik. 20% x (75 kwh-52 kwh) x Rp 530. Hasilnya Rp 2.438. Berarti, beban yang harus dibayar sebesar 52 kwh (total penggunaan daya) x 530 (TDL), sebesar Rp 27.560, kemudian dikurangi diskon Rp 2.438, sehingga menjadi Rp 25.122.

Sekarang mari kita bahas perhitungan denda (disinsentif). Formula denda adalah 1,6 dikalikan selisih pemakaian pelanggan dengan 80 persen pemakaian rata-rata nasional dikalikan tarif listrik. Misalnya, perhitungan untuk pelanggan R1 (450 VA) yang konsumsi listriknya mencapai 90 kwh adalah 1,6 x (90 Kwh-60 Kwh) x Rp 530. Hasilnya, 1,6 x 30 x 530 = Rp 25.440. Jadi, pelanggan itu harus membayar 90 x 530 = Rp 47.700 ditambah disinsentif Rp 25.440 sehingga menjadi Rp 73.140.

Selisih antara denda dan diskon sangat besar, ini tentu saja akan merugikan konsumen. Banyak kalanagn berpendapat formula diskon-denda ini adalah bentuk terselubung kenaikan tarif listrik.

Bahkan, Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi menyatakan pemakaian daya listrik tak lebih dari 75 kwh perbulan hanyalah mimpi. “Rata-rata pemakaian penduduk miskin di Jakarta saja sebesar 2.800 kwh pertahun, atau 250 kwh per bulan,” katanya. Menurutnya lagi, penggunaan daya sebesar itu hanya dilakukan oleh pelanggan miskin di Papua dan Nusa Tenggara Timur. Pasalnya, berdasar hitungan YLKI, penggunaan listrik d

i daerah itu sekira 66 Kwh perbulan.


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: